Jumat, 23 Desember 2011

Hasil Observasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

Gambar 1. wawancara dengan guru wali kelas 5 SDN Cimuncang, Tanjungkerta
BAB I
PENDAHULUAN

      A.     Latar Belakang
Anak-anak pada usia sekolah dasar tidak dapat berkembang dengan sendirinya karena mereka belum mandiri sehingga memerlukan bimbingan baik dari guru, orangtua, maupun lingkungannya. Oleh karena itu Bimbingan dan konseling adalah salah satu mata kuliah yang harus dikuasai oleh calon guru, karena peran guru disekolah bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga sebagai pembimbing yang harus mengarahkan anak didiknya agar tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai.
Guru di sekolah dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman-pengalaman dasar kepada anak,yaitu kemampuan dan kecakapan membaca,menulis dan berhitung,pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dan kepemimpinan, keterampilan serta sikap bertanggung jawab guru sekolah dasar memegang peranan dan memikul tanggung jawab untuk memahami anak dan membantu perkembangan sosial pribadi anak.
      B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling ?
2.      Apa dasar-dasar Bimbingan dan Koseling ?
3.      Apakah Program Bimbingan dan Konseling dimilki oleh sekolah dasar?
4.      Bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar?
5.      Apa saja masalah-masalah belajar yang di alami siswa sekolah dasar?
     C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dilakukannya observasi ini adalah untuk mengetahui apa definisi dari bimbingan dan konseling dan ada atau tidaknya program bimbingan dan konseling di sekolah dasar yang di  dan mengetahui bagaimana keterlaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dasar serta apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam pelakasaannya. Selain itu, observasi ini juga bertujuan untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang dialami oleh siswa sekolah dasar khusunya dalam belajar.
      D.    Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah :
1.      Pengisian angket
2.      Wawancara ( interview), penulis memperoleh informasi secara langsung dari narasumber.
3.      Observasi (Pengamatan), penulis melakukan pengamatan di sekolah dasar.

      E.     Sistematika Penulisan
Sistematika dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
            KATA PENGANTAR
DAFTAR  ISI
BAB  I  PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
B.        Rumusan Masalah
C.        Tujuan Penulisan
D.       Metode Penelitian
E.        Sistematika Penulisan
BAB  II  LANDASAN TEORI
A.       Pengertian Bimbingan dan Konseling

B.      Landasan Bimbingan Konseling

C.     Tujuan Bimbingan dan Konseling

D.       Fungsi dan Layanan Bimbingan dan Konseling
E.        Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling

F.       Azas-azas Bimbingan dan Konseling

G.      Layanan Bimbingan dan Konseling
BAB IV HASIL OBSERVASI
A.    Bimbingan dan Konseling SD Negeri Cimuncang

BAB  III  PENUTUP
A.   Kesimpulan
B.   Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
                                    Bimbingan merupakan terjemahan dari Guidance dan Counseling dalam bahasa inggris. Dalam kamus bahasa inggris kata Guidance yang berasal dari kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan). Bimbingan merupakan sebuah istilah yang sudah umum digunakan dalam dunia pendidikan. Pada dasarnya bimbingan merupakan upaya untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
   1. Pengertian Bimbingan
                 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 Pasal 25 ayat 1 menyebutkan bahwa Bimbingan merupakan bantuan yang dibeikan pada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Kalimat tersebut telah secara langsung memuat pengertian dan tujuan pokok bimbingan dan konseling disekolah.
            Menurut Kartadinata dkk (1998:4) bimbingan adalah proses bantuan membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal
                 Menurut Supriadi (dalam Setiawati dan Chudri, 2007:2) menyatakan bahwa yang dimaksud bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan oleh konselor/pembimbing kepada klien agar klien dapat : (1) memahami dirinya, (2) mengarahkan dirinya, (3) memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya, (5) mengambil manfaat dari peluang-peluang yang dimilikinya dalam rangka mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi –potensinya, sehingga berguna bagi dirinya dan masyarakat.
           
                 Sementara menurut Surya Bimbingan itu suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus dan sistematis kepada individu agar tercapai kemampuan memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self accepting) mengarahkan dirinya (self direction) dan merealisasikan diri (self realization) sesuai potensi dan lingkungannya.  Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:99) bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa.
                 Dari beberapa definisi diatas didapatkan bahwa kunci dari bimbingan adalah sebagai berikut :
1.      Bimbingan merupkan proses yang berkelanjutan
2.      Bimbingan merupakan suatu proses membantu individu
3.      Bantuan diberikan kepada semua individu
4.  Agar individu yang dibimbing dapat menyesuaikan diri dengan diri lingkungannya
5.      Bantuan diberikan agar individu dapat mengembangkan dirinya
6.      Memerlukan petugas yang memiliki keahlian
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
                 Bimbingan dan konseling yang berkembang saat ini adalah bimbingan konseling perkembangan, yaitu upaya pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supayamereka dapat memahami dirinya, sehingga mereka sanggup bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan, keluarga dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya.
                 Myrik (dalam Setiawati dan Chudri 2007:3) mengemukakan empat pendekatan dalam bimbingan, yaitu :

a.    Pendekatan krisis
Dalam pendekatan ini guru atau pembimbing menunggu munculnya masalah/suatu krisis dan kemudian dia membantu ssiswa atau individu yang mengalami krisis itu. Teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara pasti dapat mengatasi krisis itu.
b.    Pendekatan remedial
Dalam pendekatan ini guru akan memfokuskan bantuannya kepada upaya menyembuhkan atau memperbaiki kelemahan-kelemahan yang tampak. Tujuan pendektan ini adalah menghindarkan terjadinya krisis yang mungkin terjadi.
c.    Pendekatan preventif
Guru dalam pendekatan ini mencoba mengantisipasi masalah-masalah umum dan mencegah terjadinya masalah-masalah tersebut. Pendekatan ini didasarkan kepada pemikiran bahwa jika guru atau pembimbing dapat mendidik siswa untuk menyadari bahaya dari berbagai kegiatan dan menguasai metode untuk menghindari terjadinya masalah itu., maka pembimbing akan dapat mencegah siswa dari pebuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut. Berbagai teknik dapat digunakan dalam metode seperti mengajar dan memberikan informasi.
d.    Pendekatan perkembangan
Meruapakan pendekatan yang paling mutakhir dan proaktif diantara pendekatan lainnya. Pembimbingan yang menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang keterampilan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan siswa untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan di dalam kehidupan. Pendekatan ini dianggap pendekatan yang apaling tepat untuk diterapkan dalam tatanan pendidikan sekolah karena pendekatan ini memberikan perhatian kepada tahap-tahap perkembangan siswa, kebutuhan dan minat serta membantu siswa mempelajarai keterampilan hidup. Robert Myrick (dalam Setiawati dan Chudri 2007:4). Teknik yang dapat digunakan dalam pendekatan ini seperti mengajar, tukar informasi, bermain peran, melatih, tutorial, dan konseling.
2. Pengertian Konseling
Istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu consilium yang berarti “dengan” atau “bersama” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”.
Menurut Pepinsky & Pepinsky (dalam M. Ludin, 2010:17) mengemukakan bahwa konseling adalah interaksi yang (a) terjadi anatara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien; (b) terjadi dalam suasana yang profesional, (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat peubahan-perubahan dalam tingkah laku klien.
Sementara Robinson dalam M. Surya  (dalam M. Ludin : 2010) mengungkapkan bahwa konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyseuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan .
Sedangkan menurut Maclean (dalam M. Ludin : 2010) mengatakan bahwa konseling adalah suatu  proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.

B.     Landasan Bimbingan Konseling

1.    PP No. 29 atau 1990 pasal 27 ayat 1
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menekan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
2.    PP No. 38 atau 1992
Pasal 1 ayat 2 : Tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang bertugas membimbing, mengajar dan melatih peserta didik.
Pasal 1 ayat 3 : Tenaga pembimbing adalah tenaga pembimbing yang bertugas membimbing peserta didik.
Pasal 2 ayat 2 : Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar dan pelatih.

3.    SKB Mendikbud dan KA BAKN No. 0433 atau P atau 1993 dan No. 25 tahun 1993
Pasal 1 ayat 4 : Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling kepada sejumlah peserta didik.
Pasal 1 ayat 10 : Penyusunan program Bimbingan dan Konseling adalah membuat perencanaan pelayanan BK dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
Pasal 1 ayat 13 : Analisis evaluasi Bimbingan dan Konseling adalah hasil evaluasi pelaksanaan BK yang mencakup layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan bimbingan pembelajaran serta kegiatan pendukungnya.
            Pasal 1 ayat 14 : Tindak lanjut pelaksanaan Bimbingan dan Konseling adalah kegiatan menindaklanjuti hasil analisis evaluasi tentang layanan evaluasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan bimbingan pembelajaran serta kegiatan pendukungnya
C.    Tujuan Bimbingan dan Konseling
     Secara umum, tujuan bimbingan konseling adalah membantu peserta didik mencapai perkembangannya secara optimal. Secara rinci tujuan dari bimbingan konseling adalah
1. Untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan penyesuaian- penysuaian dan interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu
2.    Untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan.
3.   Untuk membantu orang-orang menjadi isan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja

Tujuan bimbingan konseling yang dimuat dalam Panduan Pelayanan dan KonselingBerbasis Kompetensi adalah membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dankemandirian secara optimal pada setiap tahap perkembangannya.
D.    Fungsi dan Layanan Bimbingan Konseling
Ada beberapa fungsi bimbingan yang dikemukakan oleh aquino dan alviar (Setiawati : 2007) yaitu pencegahan (preventif), perbaikan (kuratif), pengembangan (development) dan satu fungsi lagi yang dikemukakan oleh Prayitno yaitu fungsi pemahaman (informatif). Penjabarannya adalah sebagai berikut :
1.  Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik (siswa) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2.  Fungsi Preventif, adalah bantuan yang diberikan kepada murid bertujuan agar murid terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Hambatan sperti kesulitan belajar, kekurangan informasi, masalah hubungan sosial dan sebagainya. Bentuk kegiatan yang dilakukan yaitu :
a. Progaram layanan orientasi yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal sekolah.
b. Program kegiatan atau layanan bimbingan klasikal atau kelompok tertentu, seperti diskusi, bermain peran, dinamika kelompok, menyusun program belajar dan teknik-teknik pendekatan kelompok lainnya
c. Program layanan penempatan dan penyaluran baik yang bersifat individu maupun kelompok seperti pembentukan kelompok belajar, ekstra kurikuler dan lain-lain.

3.   Fungsi Developmental, yaitu pelayanan yang diberikan dengan tujuan dapat membantu murid mengembangkan keseluruhan potensinya dengan terarah dan mantap. Layanan ini memungkinkan murid :
a. Memperoleh kesempatan untuk mendapat pengalaman-penglaman yang membanu perkembangan sebbaik mungkin;
b. Mengenal, memahami serta melatih diri dan melakukan kegiatan tentang cara-cara pengembangan diri, sehingga mereka lebih matang untuk melakukan tugas perkembangannya, mencapai prestasi yang semaksimal mungkin;
c. Memperoleh latihan membuat dan memiliki alternatif yang paling efisisen untuk dilakukan dalam setiap situasi, dengan mempertimbangkan minat, kemampuan dan kesempatan yang tersedia;
d. Mengembangkan bakat dan minat melalui kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler.
4. Fungsi Kuratif, adalah layanan yang membantu murid untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. Bantuan yang diberikan amat bergantung pada sifat masalahnya, bentuknya dapat langsung berhadapan dengan siswa atau melalui pihak lain.

Fungsi-fungsi di atas dapat diwujudkan melalui diselengarakannya bebagai jenis layanan dan kegiatan  bimbingan dan konseling yang ingin diwujudkan dari masing-masing fungsi tersebut.
E.     Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Menurut Muro dan Kotman (dalam Setiawati dan Chudari, 2007 : 18) bimbingan dan konseling perkembangan adalah bimbingan yang didalamnya mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Bimbingan dan Konseling diperlukan oleh seluruh murid
                        Program bimbingan dan konseling diperlukan oleh siswa baik yang memiliki kesulian maupun tidak karena semua siswa karena seluruh siswa menginginkan pemahaman diri, meningkatkan kontrol diri, memahami lingkungannya, dan membuat keputusan.
2. Program Bimbingan perkembangan peduli dengan pemahaman diri, penerimaan diri dan pengayaan diri(self-enhanement).
            Kegiatan bimbingan perkembangan dirancang untuk membantu para siswa untuk mengenal lebih banyak dirinya, menerima dirinya, serta memahami potensi dan kelemahan dalam dirinya.
3. Bimbingan perkembangan mengakui perkembangan terarah daripada akhir perkembangan yang definitif.
            Dalam proses siswa mengenal dirinya, ssetiap orang memeiliki proses yang berbeda-beda sehingga membutuhkan pemahaman dan perlakuan yang berbeda.
4. Bimbingan perkembangan peduli dengan identifikasi awal akan kebutuhan khusus murid.
            Guru hendaknya melakukan pendekatan secara individu maupun kelompok untuk mengidentifikasi dan menemukan kekurangan yang dimiliki siswa yang jika tidak terpenuhi akan akan menjadi hambatan dalam kehidupan selanjutnya.
5.  Bimbingan perkembangan peduli dengan penerapan psikologi.
            Guru sebagai pembimbing tidak hanya sekedar peduli terhadap kemampuan belajar unutk belajar melainkan  juga aspek psikologis siswa tersebut.
          F.     Azas-azas Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan layanan bimbingan dan konseling sangat dientukan oleh terwujudnya asas-asas sebagai berikut :
1. Rahasia, yaitu guru sebagai pembimbing wajib menjamin dan merahasiakan seluruh data dan keterangan tentang murid yang menjadi objek layanan.
2. Sukarela, yaitu siswa sebagai individu yang mengikuti layanan bimbingan harus dengan sukarela tanpa adanya paksaan dalan melakukan bimbingan tersebut.
3. Terbuka, yaitu menghendaki siswa sebagai sasaran layanan bimbingan bersifat terbuka kepada guru sebagai pembimbing, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya ataupun informasi yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru mengembangkan keterbukaan murid agar layanan bimbingan berjalan lancar.
4. Kegiatan,  dalam hal ini siswa sebagai objek layanan bimbingan dan konseling berpartispasi sacara aktif dalam bimbingan tersebut. Karena jika siswa tidak aktif maka layanan bimbingan tersebut akan terhambat.
5. Mandiri, yaitu siswa yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri setelah melakukan layanan bimbingan dan konseling dengan cara mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya.
6. Kini, yaitu hendaknya permasalahan siswa yang menjadi objek layanan bimbingan dan konseling adalah permasalan yang sekarang bukan permasalahan masa lampau. Permasalahan masa lampau akan dijadikan sebagai bahan pembimbing untuk memberikan saran kepada siswa.
7. Dinamis, yaitu menghendaki agar isi bimbingan dan konseling terhadap siswa sasaran bimbingan dan konseling selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.
8. Terpadu, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru dan siswa maupun pihak lain saling menunjang, harmonis dan terpadu.
9. Harmonis, yaitu hendaknya layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan sesuai dengan norma yang berlaku, yaitu norma agama, hukum, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.
10. Ahli, yaitu layanan bimbingan konseling yang dilaksanakan hendaknya dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.
11. Alih tangan kasus, yaitu hendaknya pihak-pihak yang tidak mampu melaksanakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas terhadap suatu permasalahan yang dimilki klien mengalihtangankan atau menyerahkan permasalahan tersebut kepada pihak yang lebih ahli.
12. Tut Wuri Handayani, yaitu menghendaki agar pelayanan Bimbingan dan Konseling keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi, mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang sebesar-besarya kepada siswa atau klien untuk maju dan mengembangkan dirinya.
        G.    Layanan Bimbingan dan Konseling
Dalam Pedoman Bimbingan dan Konseling di SD (2004:402) kegiatan dari Bimbingan dan Konseling adalah:
1.    Layanan Orientasi
2.    Layanan Informasi
3.    Layanan Penempatan dan Penyaluran
4.    Layanan Penguasaan Konten
5.    Layanan Konseling Individual
6.    Layanan Bimbingan Kelompok
7.    Layanan Konseling Kelompok
8.    Layanan Mediasi
9.    Layanan Konsultasi

Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Konseling individual, yaitu layanan yang membantu peserta didik
dalam mengentaskan masalah pribadinya.
Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.



BAB III
HASIL OBSERVASI

A.  Bimbingan dan Konseling di SD Negeri Cimuncang
Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Oktober dan 25 November 2010 tentang keterlaksanaan program Bimbingan dan Konseling di  SD Negeri Cimuncang yang berada di Dusun Sukaregang Desa Banyuasih Kecamatan Tanjungkerta, dapat saya simpulkan beberapa hal, yaitu :
1. Tidak adanya Program Bimbingan dan Konseling di SD Negeri Cimuncang
2. Tidak ada ruangan khusus untuk layanan bimbingan konseling bagi siswa yang membutuhkan bimbingan.
3. Pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan bersifat Kuratif
4. Tidak adanya tenaga yang ahli dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
            Program Bimbingan dan Konseling di SD Negeri Cimuncang tidak ada, namun menurut Kepala Sekolah yang penulis wawancara pelayanan bimbingan konseling tetap terlaksana bagi siswa yang mempunyai permasalahan. Bimbingan diberikan kepada siswa yang memilki masalah seperti kurang dalam pelajaran pelajaran ataupun anak yang memilki kelainan. Sebelum melakukan bimbingan dan konseling guru terlebih dahulu berkoordinasi dengan orang tua siswa yang memerlukan bimbingan tersebut mengenai masalah yan dimiliki oleh anaknya.
            Masalah-masalah belajar yang biasanya dialami oleh siswa adalah kesulitan dalam beberapa mata pelajaran seperti matematika, misalnya yang dialami oleh kebanyakan siswa kelas 5. Selain itu pelajaran juga dianggap sulit oleh sebagian siswa kelas 6 SD Negeri Cimuncang.
            Penyelesaian yang diberikan oleh guru sebagai pembimbing kepada siswa yang bermasalah pada mata pelajaran matematika biasanya dilihat dari hasil. Jika hasilnya sudah cukup memuaskan siswa hanya diberi pengayaan saja, sedangkan bagi siswa yang masih kurang diberikan bimbingan secara individu seperti les atau bimbingan belajar.
            Selain itu, tidak adanya ruangan khusus untuk bimbingan dan konseling juga menjadi salah satu persoalan. Dengan tidak adanya ruangan khusus BK maka kegiatan layanan pun akan terhambat karena kerahasiaan mengenai masalah yang dialami oleh siswa. Bimbingan di SD Negeri Cimuncang biasa dilaksanakan guru sebagai pembimbing di ruang kelas atau ruang guru pada saat jam istirahat atau saat pulang sekolah. Menurut guru wali kelas 5 yang penulis wawancarai, terjadi perubahan dari beberapa siswa yang telah melaksanakan bimbingan seperti tidak kesulitan lagi dalam pelajaran matematika.
            Layanan bimbingan yang dilaksanakan di SD Negeri Cimuncang bersifat kuratif yaitu pembimbing menunggu adanya krisis atau masalah yang dialami siswa (klien) lalu membantu siswa tersebut menyelesaikan masalahnya. Sebelum memtuskan langkah apa yang digunakan untuk menyesaikan masalah tersebut guru wali kelas terlebih dahulu mengidentifikasi masalah apa yang dialami kenudian memberi tahu orangtua siswa yang bermasalah tersebut dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalahnya.
            Layanan bimbingan konseling di SD  Negeri Cimuncang biasanya terkendala oleh orangtua yang tidak mengerti tentang bimbingan dan konseling. Dalam hal ini guru wali kelas memberikan penjelasan bahwa anak mereka sedang melaksanakan bimbingan agar anak-anak mereka dapat menyelesaikan masalahnya agar para orangtua siswa tidak salah paham. Selain itu, ada juga siswa yang tidak mau melakukan bimbingan, hal ini membuat guru sebagai pembimbing kesusahan untuk membantu anak tersebut menyelesaikan masalahnya. Namun, anak yang tidak mau melakukan bimbingan ini tidak begitu saja ditinggalkan. Guru sebagai pembimbing bisanya mencari cara agar anak tersebut mau melakukan bimbingan seperti memberikan pujian untuk siswa tersebut..
            Keterbatasan tenaga ahli dalam bidang bimbingan konseling pun menjadi masalah di SD yang penulis observasi ini. Layanan bimbingan dan konseling di SD Negeri Cimuncang dilaksanakan oleh guru wali kelas dengan berbekal pengetahuan yang mereka dapatkan pada saat kuliah sehingga nanti memungkinkan hasil bimbingan tersebut kurang maksimal.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bimbingan merupakan bantuan yang dibeikan pada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan sedangkan konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyseuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan .
Bimbingan dan konseling memeliki beberapa dasar-dasar yaitu terdiri dari : (1) landasan Bimbingan Konseling, (2) tujuan Bimbingan dan Konseling, (3)  fungsi dan layanan Bimbingan dan Konseling, (4) Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling, (5)azas-azas Bimbingan dan Konseling, (6) layanan Bimbingan dan Konseling
Pada umumnya pelaksanaan kegiatan Bimbingan dan Konseling telah berjalan di sekolah dasar namun ternyata sekolah tidak memiliki program Bimbingan dan Konseling.
Masalah-masalah belajar yang biasa dialami siswa adalah kesulitan dalam beberapa mata pelajaran seperti matematika dan bahasa inggris.
B. Saran
Sekolah dasar disetiap daerah hendaknya memiliki program bimbingan dan konseling agar layanan bimbingan dan konseling dapat berjalan secara terprogram dengan baik sehingga pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan maksimal.
Selain itu, sebaiknya disetiap sekolah memiliki ruangan khusus unutk melaksanakan bimbingan dan konseling agar asas kerahasiaan klien dapat terjaga dengan baik saat melakukan layanan bimbingan.
Pembekalan terhadap guru pembimbing mengenai bimbingan dan konseling pun sangat penting karena selama ini mereka membimbing para siswa hanya dengan ilmu yang mereka dapatkan dari bangku kuliah sehingga pelayanan bimbingan pun kurang maksimal. Jadi sebaiknya pemerintah dalam peuli akan hal ini.




DAFTAR PUSTAKA

Hoesein. (1993). Pedoman Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Proyek Pembinaan Karier Guru dan Pengendalian Mutu Tenaga Pendidikan.
Kartadinata, Sunaryo. (1998). Bimbingan di Sekolah Dasar. Bandung : Departemen Pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
M. Ludin, Abu Bakar. (2010). Dasar-dasar Konseling. Bandung. Ciptapustaka Media Perintis
Setiawati. Chudari. (2007). Bimbingan dan Konseling. Bandung : UPI Press.
Tn. (2004). Pedoman Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it